JOMBANG – Malam itu, Rabu (4/7/2025), sekira pukul 19.00, satu pemandangan ganjil nampak meruang disepanjang ruas jalan Kabuh-Sukorame (Lamongan) rute Sumberaji.
Mungkin tidak benar-benar ganjil. Tapi situasi itu, sedikitnya mengabarkan aura kurang nyaman. Dan itu, cukup membetot tanya.
Malam itu, perlintasan aspal menuju perbatasan Lamongan itu terkondisi tanpa penerangan jalan. Nyaris gelap. Terutama memasuki kawasan hutan dan area non permukiman penduduk.
Padahal tiang PJU masih berdiri kokoh ditempatnya. Masih berderet, dan masih berjajar rapi. Entah berapa jumlahnya. Diantara gelapnya langit, lampu dan kabel PJU masih terlihat samar menggelantung diatas kepala.
Praktis, pengendara hanya mengandalkan sorot lampu sendiri, juga topongan kendaraan lawan. Tapi, ini tidak terjadi pada permukiman penduduk. Dikawasan ini, lampu PJU nampak baik-baik saja.
Keadaan serupa juga menyasar ruas Kabuh-Tapen. Tapi tidak sama persis. Pada jalan aspal dengan tampilan megah oleh ruas yang lapang dan konstruksi bangunan yang terbilang baru itu, lampu penerangan jalan nampak normal dari ujung hingga ujung.
Namun itu bukan lampu PJU, melainkan lampu penerangan dari rumah warga. Pada ruas Kabun-Tapen sepanjang kurang lebih 7 kilometer itu, belum satu pun ditemukan tiang PJU berdiri disana.
Ini memang ruas milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sehingga soal kenapa di ruas ini belum berdiri tiang PJU, itu sama sekali bukan ranah Pemkab Jombang untuk menjawabnya.
Sekalipun begitu, ini adalah satu suguhan fakta bahwa di seantero kota santri masih banyak ruas jalan yang memerlukan penerangan jalan untuk mendukung aktivitas warga, juga penopang geliat ekonomi.
Khusus ruas Kabuh-Sukorame lewat Sumberaji, konfirmasi dari Dishub Jombang membenarkan lampu PJU terkondisi mati. Namun, itu tidak bisa dilakukan pembenahan biasa. Rehab adalah jawaban tehnis untuk PJU Kabuh-Sukorame yang sudah lapuk oleh usia.
Dishub Jombang bukan tidak tahu akan hal itu. Juga tidak bermaksud menutup mata, apalagi sekedar menunda-menunda pembenahan atas nama apapun. Itu semua, hanya soal kesediaan anggaran.
Pada prinsipnya, Dishub menginginkan seluruh ruas di Jombang berlaku keadaan terang benderang, bukan byarpet. Namun sebagai dinas tehnis, kinerja Dishub bergantung pada kesediaan dan dukungan anggaran.
Potret kasus ruas Kabuh-Sukorame dan Kabuh-Tapen hanyalah serpihan kecil yang belum mewakili keadaan sebenarnya. Sejauh ini, data tentang kinerja PJU dibelahan ruas Jombang yang lain belum dikantongi.
Hanya saja, situasi demikian tetap memicu tanya. Sebab, tahun 2024 misalnya, angka realisasi pajak penerangan jalan umum Pemkab Jombang tembus Rp 85 milyar. Dan itu, sedianya digunakan untuk menopang kebutuhan PJU.
Disisi lain, berdasarkan data KORAN-K.com, diduga kuat lampu PJU di Jombang rata-rata hanya menyala 5 jam tiap malam. Padahal sistem kerja PJU dipatok 12 jam per hari.
Angka itu, muncul dari jumlah KWH (Kilowhatt Hour) atau daya PLN yang terjual untuk PJU Jombang, dan daya yang terpasang pada PJU Jombang.
Pada 2024, daya terjual adalah 7.938.299 atau setara 7.938.299.000 whathour. Sementara, daya terpasang adalah 4.644.970 volt ampere.
Dengan demikian, antara daya terjual dan daya terpasang ketemu angka 1.709 jam dalam setahun. Maka, daya nyala lampu PJU per hari (1.709 jam dibagi 365 hari) adalah 4,682 jam atau dibulatkan menjadi 5 jam. Benarkah demikian? (din)













