Example floating
Example floating
Kasuistik

Diduga Berat Jenis Berkurang, Kasus Aspal Ambles Picu Kerugian Rp 55 Juta

0
×

Diduga Berat Jenis Berkurang, Kasus Aspal Ambles Picu Kerugian Rp 55 Juta

Sebarkan artikel ini
Nampak Aspal Bergelombang Dan Ambles, Padahal Belum Genap Setahun Dikerjakan. (Foto: koran-k.com)

SURABAYA, KORAN-K.com   –   Pegiat LSM menyebut kasus aspal ambles di ruas rolak Gunungsari hingga Tol Karah sepanjang hampir 1 kilometer, diduga karena berat jenis aspal tidak sesuai takaran.

Selain itu, tuturnya, aspek pemadatan landasan yang disinyalir tidak maksimal juga turut menyumbang terjadinya kasus aspal ambles atau sedikitnya bergelombang

“Saya hanya bicara gejala umum saja. Kalau analisa ini dinilai tidak tepat, silahkan Dinas SDABM Pemkot Surabaya melempar bantahan dengan data, “sergahnya.

Ia berpandangan, jika benar pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi tehnis, maka kasus aspal ambles tidak perlu terjadi. Sebab, pada prinsipnya, setiap pekerjaan sudah direncanakan dengan sangat terukur.

Hal-hal klasik seperti munculnya kasus dipicu volume lalu lintas yang tinggi misalnya, tegas dia, itu sama sekali tidak bisa diterima nalar. Sebab, pekerjaan aspal tidak perlu waktu lama untuk siap dilintasi.

Khusus untuk belanja aspal, sambungnya, guliran kasus diduga memicu kerugian negara sekitar Rp 55 juta (tepatnya Rp 55.680.000) dari anggaran belanja aspal sebesar Rp 278.400.000.

Angka ini muncul dari kebutuhan aspal AC-WC yang menurut spesifikasi seharusnya disediakan 174 ton. Namun, itu berkurang 24 ton karena faktor berat jenis yang menyusut.

Sementara itu, tuturnya, rata-rata harga aspal AC-WC dipatok dikisaran Rp 1,6 juta per ton.

Sebagaimana ditulis sebelumnya, proyek aspal ambles atau gagal konstruksi terjadi di ruas rolak Gunungsari hingga tol Karah. Kasus ini menjadi sorotan karena proyek belum genap setahun dikerjakan.

Merujuk data sirup LKPP tahun anggaran 2024, proyek ini bertajuk pembangunan saluran u-ditch 150/150 dengan cover gandar 15 ton (Jalan Bibis Karah depan kantor kelurahan menuju ke pompa SWK Karah).

Proyek tender yang dimenangkan CV Rizquna ini dipagu sebesar Rp 6.466.056.626, HPS dipatok Rp 6.425.492.953, dan kontrak tender terjadi diangka Rp 5.264.161.112 atau Rp 5,2 milyar.

Berdasarkan data KORAN-K.com, proyek ini membutuhkan aspal sebanyak 174,271 ton. Angka ini muncul dari panjang jalan (723 meter), lebar jalan (2,62 meter), serta ketebalan aspal (0, 04 meter). Total volume adalah 75,77 m3.

Karena aspal yang digunakan jenis AC-WC, maka berat jenis aspal nangkring diangka 2,3. Dengan demikian, berat aspal yang dibutuhkan dalam proyek ini (yaitu 75,77 dikalikan 2,3) adalah 174,271 ton.

Ia pun menduga, spesifikasi aspal sudah benar saat berada di AMP. Hanya, saat digelar, diduga temperaturnya sudah turun. Praktik ini biasa dikenal dengan sebutan aspal dingin.

Bedanya, tutur dia, jika aspal digelar dalam kondisi panas atau temperatur penuh, penyusutan bisa tembus 50 persen. Sedang dalam kondisi dingin, penyusutan berkisar diangka 20 persen.

Maka, tegasnya, jika benar kasus aspal ambles dipicu penyusutan 20 persen karena digelar dalam kondisi dingin, kerugian negara disinyalir tembus Rp 55 juta.

Angka ini muncul dari penyusutan 20 persen (yakni sebesar 34,8 ton) dikalikan harga aspal per ton Rp 1,6 juta.

Dugaan kerugian negara Rp 55 juta hanya dari item aspal saja. Tentu, tegasnya, angka tersebut akan membengkak tajam jika seluruh item pekerjaan dihitung secara detail.

Benarkah kasus aspal ambles proyek rolak Gunungsari-tol Karah dipicu berat jenis aspal yang berkurang? Sayangnya, terhadap dugaan ini, Dinas SDABM Pemkot Surabaya masih memilih sikap bungkam. (din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *