JOMBANG – Memasuki tahun anggaran 2026, RSUD Ploso tercatat telah melakukan pembelian alat kedokteran bronchoscope seharga Rp 1.582.797.987,00 atau Rp 1,58 milyar.
Berdasarkan rambahan literasi, bronchoscope merupakan alat medis berupa tabung tipis dan fleksibel yang dilengkapi kamera serta sumber cahaya di ujungnya, digunakan untuk pemeriksaan bagian dalam saluran pernafasan.
Paket dengan kode rup 62795118 yang dipagu sebesar Rp 1.785.179.323 dan dilaksanakan secara epurchasing (katalog) ini tercatat dimenangkan oleh PT Endo Indonesia.
Masalahnya, bronchoscope tipe apa yang dibeli dan berapa harganya, itu yang belum jelas. Humas RSUD Ploso drg Jerry Saifudin yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (15/4/2026), masih sebatas menampung pertanyaan untuk diteruskan ke bagian pengadaan.
Merujuk etalase katalog PT Endo Indonesia, produk bronchoscope yang dijual terdapat 6 tipe. Yakni BR-1249 dibandrol Rp 368.219.749,00, BR-1242 dibandrol Rp 350.508.140,00, serta BR-1259 dibandrol Rp 340.290.109,00.
Kemudian, BR-1231 dibandrol Rp 356.697.279,00, lalu Sonoscope Video Bronchoscope EB-5T28 dibandrol Rp 794.027.360,00, serta Sonoscope Video Bronchoscope EB-500 dibandrol Rp 629.377.004,00.
“Dari 6 produk tersebut, tipe mana yang dibeli serta berapa harga dan jumlah produk, itu belum jelas. Karenanya transaksi model begini rawan terjadi dugaan mark up harga, “sorot pegiat LSM di Jombang.
Ia pun meminta agar RSUD Ploso bersikap terbuka soal harga dan tipe bronchoscope yang dibeli. “Sederhana saja, jika tidak terbuka, berarti ada sesuatu yang tidak beres terutama soal dugaan mark-up harga, “tambahnya.
Selain itu, RSUD Ploso juga diminta menjelaskan kenapa PT Endo Indonesia yang dipilih. Ini penting, tegasnya, untuk memastikan bahwa proses pemilihan penyedia tidak terjadi praktik memenangkan pihak tertentu atau penataan paket.
Sebagaimana data etalase katalog, pembelian bronchoscope oleh RSUD Ploso dipastikan berlangsung secara mini kompetisi. Hal ini, tuturnya, karena penyedia katalog bronchoscope tidak hanya PT Endo Indonesia, tetapi banyak kompetitor lain.
Diantaranya adalah PT Geisha Medika Utama, PT Sinergi Multi Kreasindo, PT Cut Inter Medika, Siti Rahmah Anugerah, Has Aneuk Nanggro, Pro Healt Internasional, dan masih banyak lagi yang lain.
“Prinsip mini kompetisi adalah soal negoisasi harga. Pertanyaannya, secara dokumen katalog, apakah RSUD Ploso sudah melakukan negoisasi kepada penyedia lain yang memenuhi kualifikasi dan spesifikasi? Ataukah langsung memilih PT Endo Indonesia? “sorotnya.
Apakah RSUD Ploso bersedia membuka dokumen pembelian bronchoscope untuk menepis dugaan mark-up harga dan penataan paket? Ikuti terus beritanya hanya di Koran-K.com. (din)













