SURABAYA, KORAN-K.com – Pemeriksaan tim Aswas (Asisten Pengawas) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur terhadap oknum jaksa terduga penerima suap kasus korupsi dana pokir DPRD Jatim di Jombang, belum menunjukkan perkembangan berarti.
Bahkan terbilang misterius, karena upaya konfirmasi yang dilakukan ke gedung Kejaksaan Tinggi Jatim, Selasa (3/12/2024), hanya berujung membentur tembok protokoler layanan publik.
“Maaf bapak, saat ini para pimpinan masih sibuk dengan rekrutmen CPNS hingga pekan depan sehingga belum bisa ditemui, “ujar perempuan petugas PPID Kejati Jatim yang mengaku hanya menyampaikan konfirmasi dari pimpinan.
Belum diketahui, jawaban petugas PPID benar-benar mewakili kesibukan gedung Adhiyaksa A Yani atau ada hal lain. Yang jelas, saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 dan peserta rekrutmen CPNS dengan atasan putih dan celana hitam itu nampak mulai meninggalkan gedung Kejati.
Terpisah, tim pemeriksa Aswas Kejati Jatim, Dodik, yang dihubungi melalui sambungan seluler menolak memberikan pernyataan terkait perkembangan kasus dugaan suap yang dilakukan oknum jaksa W yang bertugas di Kejari Jombang.
“Mohon maaf saya tidak bisa memberikan pernyataan terkait perkembang pemeriksaan (kasus dugaan suap oknum jaksa W). Itu kapasitasnya Kasi Penkum. Silahkan menghubungi beliau, “ucapnya diujung telpon, Selasa (3/12/2024).
Sejumlah pertanyaan yang dilontarkan kepada Dodik diantaranya adalah apakah jaksa W saat ini dinonaktifkan terkait statusnya sebagai terperiksa dugaan pelanggaran etik dan dugaan pidana suap.
Juga, sejauh apa hasil pemeriksaan tim Aswas yang sudah berlangsung dalam 3 ini. Apakah dugaan pelanggaran etik dan pidana berujung menguat atau sebaliknya. Dan Selasa kemarin, kabut misteri itu belum juga terkuak.
Terhadap hal ini, seorang praktisi hukum yang dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Selasa (3/12/2024), menegaskan bahwa pemeriksaan dugaan suap yang menyeret sejumlah jaksa Kejati Jatim dan jaksa Kejari Jombang bakal berlangsung alot.
Sebab, tegasnya, salah satu jaksa terperiksa merupakan anak kandung dari Wakajati di salah satu Kejaksaan Tinggi di luar Jawa. “Saya kira konflik of interest akan membayangi jalannya pemeriksaan sehingga kasus ini tidak akan selesai dalam waktu cepat, “tegasnya.
Menurutnya, tanda ke arah itu sudah mulai nampak. Salah satunya ditunjukkan tim Aswas Kejati Jatim yang menyebut pihaknya tidak punya kapasitas memberikan pernyataan resmi kepada publik melalui keterangan pers.
“Saya bisa bilang kalau tidak ada anak orang penting yang terseret dalam kasus ini (dugaan oknum jaksa terima suap), sudah pasti sikap tim Aswas seratus delapan puluh derajat lebih terbuka dan berani menunjukkan ketegasan, “tambahnya. (din)













