JOMBANG, KORAN-K.com – Pantauan KORAN-K.com di lokasi Sentra PKL menyebutkan masih terjadi genangan air setelah hujan mengguyur. Itu merujuk pada sejumlah ruas. Memang debit tidak tinggi, namun butuh hitungan jam untuk membuat genangan air menghilang dari pelataran paving.
Seorang kontraktor menyebut peristiwa itu terjadi lebih dipicu karena konstruksi paving yang tidak ideal. Genangan air muncul, tuturnya, karena konstruksi paving tidak cukup memberi ruang alir menuju selokan yang disediakan.
“Dugaan sementara, permukaan paving tidak simetris dan tidak integral dengan selokan. Juga, konstruksi serapan paving diduga kurang ideal sehingga memicu genangan. Apapun itu, kondisi ini sangat tidak bagus untuk proyek bertajuk “Sentral” apalagi berbiaya besar, “tuturnya.
Hingga berita ini ditulis, Sabtu (11/1/2024), penjelasan dari Dinas Perdagangan Dan Perindustrian Pemkab Jombang belum berhasil dikantongi. Kepala Dinas yang dihubungi melalui sambungan seluler, Jumat (10/1/2024), belum bersedia angkat bicara.
Selain “kasus air menggenang”, pantauan media ini menyebutkan bahwa hingga hari ini area sentra PKL belum menyediakan fasilitas toilet dan musholla. Kondisi ini cukup memantik pertanyaan serius karena sentra PKL diproyeksikan menjadi pusat berkumpulnya ratusan manusia.
“Toilet jelas menjadi kebutuhan standar, apalagi dengan banyak manusia berkumpul disitu. Yang sedikit agak mengganggu itu justru faktor musholla. Mungkin Disdagrin lupa bahwa Jombang masih menyemat sebagai kota santri, “tutur seorang tokoh yang enggan disebut namanya.
Dari kondisi yang demikian itu, saat ini, disebut proyek susulan tengah disiapkan. Yakni pengadaan lapak PKL sejumlah ratusan unit dengan pagu anggaran tembus milyaran rupiah. Pertanyaannya, sudah tepatkah pengadaan lapak dilakukan sekarang ditengah beberapa hal masih perlu pembenahan?
Sebab, tutur seorang Sumber, jika pengadaan tetap dipaksakan ditengah kondisi lapangan yang terbilang masih compang-camping itu, maka kuat dugaan bahwa hasrat berproyek masih lebih kuat dibanding komitmen untuk mengawal terlaksananya visi besar.
“Target waktu memang penting. Tapi target kualitas (pekerjaan) jauh lebih penting. Sebab, ini menyangkut visi besar, “tegasnya seraya mengingatkan agar Pemkab tidak serampangan soal pelaksanaan proyek sentra PKL yang sudah menyedot hampir Rp 50 milyar uang rakyat tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun, untuk alokasi pembebasan lahan saja, sedikitnya Pemkab telah merogoh APBD sebesar Rp 33,8 milyar. Yakni pembelian lahan milik Gono sebesar Rp 10 milyar, lalu pembelian lahan milik mantan Sekdakab Jombang Rp 16 milyar, serta pembelian lahan pintu masuk sisi timur sebesar Rp 7,8 milyar.
Pada tahap pelaksanaan proyek, sejumlah item pekerjaan mulai pengurukan lahan, pemasangan paving, pemasangan instalasi listrik, serta pembuatan taman, tercatat Pemkab telah menggelontorkan Rp 11 milyar untuk 2 kali pekerjaan.
Lalu, disusul pengadaan playground sebesar Rp 1,7 milyar, landasan taman sebesar Rp 199 juta, serta pemasangan tenda membran senilai Rp 2,95 milyar. Ini belum termasuk alokasi untuk toilet dan musholla.
“Nah, ditengah biaya besar dan hasil proyek yang belum optimal itu, tiba-tiba muncul kabar pengadaan lapak PKL segera dilaksanakan pada awal tahun ini. Saya tidak tahu, ini benar-benar kebutuhan atau sekedar kepentingan proyek, “sorotnya. (din)













