Oleh: Sutikno
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sipil (FKMS) Jawa Timur
Sepertinya ada yang magis dari tanah Tambak Beras. Entah karena kandungan air tanahnya yang membikin darah gampang mendidih atau memang lokasinya terberkati sebagai arena gulat gengsi antar-saudara.
Di abad ke-13, tanah ini menyaksikan para pahlawan pendiri Majapahit terlibat bakso baku hantam dan saling tenggelamkan lawan di sungai.
Abad ini, kawasan yang sama kembali menjadi panggung arena Muktamar, di mana senjata utamanya berubah dari keris bertuah menjadi mik pembawa acara dan pasal-pasal tata tertib sidang.
Drama Kolosal Baju Zirah
Semua bermula dari Ranggalawe, ksatria Tuban yang kena serangan FOMO politik tingkat dewa.
Merasa air matanya paling banyak menetes saat mendirikan Majapahit, ia mengamuk di istana hanya karena Raden Wijaya menunjuk Nambi—figur yang dianggap kurang ‘skena’ dalam medan perang—sebagai Patih Mangkubumi.
Ranggalawe pulang kampung, angkat senjata, dan menceburkan diri ke Sungai Tambak Beras. Hasilnya? Ia tewas dikunci di dalam air oleh Kebo Anabrang yang lebih jago renang.
Tragisnya lagi, Lembu Sora—sang paman—yang terbawa emosi melihat keponakannya mengapung, langsung main tusuk Kebo Anabrang dari belakang. Tanpa tabayyun, tanpa klarifikasi, yang penting emosi terluapkan.
Hasil akhirnya: dua panglima terbaik mati konyol, dan sang paman kena cancel politik istana seumur hidup.
Reinkarnasi Berbalut Sarung
Lompat ke masa kini, kostumnya memang berganti dari baju besi menjadi sarung batik dan peci, tapi aroma intriknya terasa deja vu.
Di arena Muktamar, figur berwatak Ranggalawe selalu ada: faksi yang merasa paling berdarah-darah mengurus basis rumput akar, lalu murka saat kursi Tanfidziyah diduduki kelompok yang dinilai cuma jago fungsi administratif.
Perseteruan Syuriyah dan Tanfidziyah pun kerap menjelma duel Ranggalawe versus Kebo Anabrang—bukan lagi adu otot di aliran sungai, melainkan adu manuver interupsi, klaim jumlah suara, dan perang narasi di grup WhatsApp alumni.
Jika di era kerajaan ada provokator licik bernama Mahapati yang memelihara dendam Lembu Sora, di era Muktamar modern ada tim sukses dan akun-akun pergerakan yang sibuk menyiram bensin di tengah panasnya lobi-lobi malam.
Satu keputusan emosional saat pleno bisa menghasilkan “pembunuhan karakter” yang efek dominonya membakar kerukunan organisasi hingga berharga satu periode kepengurusan.
Seni Selamat dari Kolam Ego
Sejarah Tambak Beras mengajarkan satu hal: musuh terbesar organisasi besar bukanlah pihak luar, melainkan penyakit “paling berjasa” yang diidap kader-kadernya sendiri.
Jika dahulu Raden Wijaya gagal menjadi penengah moral hingga keris terhunus, Muktamar hari ini menggantungkan nasibnya pada hikmah para Kiai Sepuh dan mekanisme mufakat AHWA.
Tanpa rem spiritual dan kerendahan hati untuk tabayyun, Tambak Beras akan terus menjadi sekuel Pararaton: beda zaman, beda seragam, tapi sama-sama hobi tenggelam dalam kolam ego sendiri sambil menyisakan rasa pahit di cangkir kopi para muktamirin. (*)













