JOMBANG, KORAN-K.com – Secara sederhana, yang dimaksud dengan iklan adalah, cara memperkenalkan produk (barang, jasa, layanan, dan seterusnya) kepada kahalayak luas untuk tujuan tertentu.
Dikutip dari berbagai sumber, tujuan yang dimaksud diantaranya adalah untuk mengajak, memperkenalkan, mempengaruhi, bahkan sekedar peneguhan atas satu nilai tertentu.
Jika sampai hari ini masih dijumpai banyak brand besar berseliweran di tempat umum baik secara visual maupun audio visual, baik indoor maupun outdoor, itu tidak lebih hanyalah untuk peneguhan satu nilai.
Pajangan billboard besar dipinggir jalan dengan pampangan iklan rokok gudang garam surya 12, rokok sampurna mild, sampurna LA, Djisamsoe, atau brand besar lainnya, untuk apa dilakukan?
Bukankah pasar sudah sangat akrab dengan produk tersebut? Bukankah tindakan itu menyedot biaya yang tidak kecil dan cenderung mubazir?
Ternyata itu dimaksudkan untuk menancapkan nilai kepada konsumen agar produknya tidak dilupakan. Lebih dari itu, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa brand besar adalah produk terpercaya. Itulah peneguhan nilai.
Untuk iklan yang masih level memperkenalkan, mengajak, dan mempengaruhi mindset pasar atau konsumen, itu biasanya hanya terjadi pada produk baru yang berniat mengekspansi pasar.
Brand-brand besar sudah sangat lihai soal dimana iklan harus ditempatkan. Untuk iklan outdoor, pasti billboard reklame akan menempati view kosong satu atau sudut pandang paling strategis.
Jika iklan harus masuk media massa (TV, radio, cetak, maupun online), tentu yang dipilih adalah media dengan pembaca atau penonton paling banyak.
Kenapa begitu? sederhana saja, yakni agar produk dikenal luas secara pasar. Dengan demikian, potensi terjadi transaksi juga cukup besar. Selain soal pasar dan segmentasi, durasi penayangan juga masuk pertimbangan. Itulah yang disebut efisiensi anggaran.
Nah, pada acara deklarasi SWJ dan peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2025 di gedung aula Perhutani Jombang, Senin (10/2/2025), Kepala Dinas Kominfo Jombang Endro Wahyudi SSTP, mendapat pertanyaan soal pembagian iklan untuk media di Jombang.
Pertanyaan muncul, karena selama ini porsi iklan (jenis advetorial) untuk beberapa media dirasa kurang adil. Persepsi bahwa sedang berlangsung praktik tebang pilih oleh Dinas Kominfo Jombang pun tak terhindarkan.
Terhadap pertanyaan itu, Endro lantas melempar pencerahan kepada audiance yang sebagian besar adalah wartawan.
“Jika anggaran publikasi hanya Rp 1 milyar lalu dibagi 200 media, kira-kira berapa jatah satu media? Coba dihitung sendiri, “nada Endro mengajak berfikir realistis.
Kepala Dinas termuda ini tak lupa menegaskan, “Sebenarnya, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk belanja iklan media itu pertanggung jawabannya sangat ketat. Salah satunya berkaitan dengan jumlah pembaca. Jadi kalau ada kesan tenang pilih, saya rasa itu tidak benar, “terangnya. (din)



